Puisi adalah dirimu yang membutakan mata..
sesaat sebelum aku ingin menatap pagi yang
mengikat hati..
setelah hatiku terikat dengan ribuan hati yang
menyerang malam-malamku..
masih terdiam dalam sujudku dan bertanyalah kaki-
kaki pikiranku..
akankah hatimu berkata-kata sama dengan bibirmu
berucap..
akankah pagimu jadi pagiku jika embun itu hanya ada
di kakimu
..
tanpa sadar aku menghakimi takdirku dengan
pertanyaan..
lalu menghadiahi jalanku dengan jutaan tanda tanya..
bukankah hidupku cukup berwarna tanpa harus
banyak berfikir..?
atau mungkin nada-nada itu harus ku nyanyikan
meski aku tlah berpasrah..
keraguan menghentak dadaku diam-diam..
disisi lain cinta adalah keyakinan yang tak tertutupi..
dan puisi ini memilih dirimu sebagai setengah dari
keraguan untuk menjadi mahkotaku.. lalu memilih keyakinan sebagai jubahku..
dan tangan TUHAN sebagai sesuatu yang
menyaksikan pikiranku
yang masih bertanya atas perasaanmu yang sebenarnya…